Harimau Sumatra (Sumatra tiger) Hampir Punah


https://duniabinatangbinatang.blogspot.com/
Harimau Sumatra


Harimau Sumatra :
Harimau sumatra (bahasa LatinPanthera tigris sondaica[2]) adalah subspesies harimau yang habitat aslinya di pulau Sumatra, dan merupakan satu dari enam subspesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN. Populasi liar diperkirakan antara 400-500 ekor, terutama hidup di taman-taman nasional di Sumatra. Uji genetik mutakhir telah mengungkapkan tanda-tanda genetik yang unik, yang menandakan bahwa subspesies ini mungkin berkembang menjadi spesies terpisah, bila berhasil lestari.[3]
Penghancuran habitat merupakan ancaman terbesar terhadap populasi saat ini. Pembalakan tetap berlangsung bahkan di taman nasional yang seharusnya dilindungi. Tercatat 66 ekor harimau sumatra terbunuh antara tahun 1998 dan 2000.
Pada tahun 2017, Satuan Tugas Klasifikasi Kucing dari Cat Specialist Group merevisi taksonomi kucing sehingga populasi harimau yang hidup dan punah di Indonesia sekarang digolongkan sebagai P. t. sondaica


Bagaimanakah kondisi harimau sumatera saat ini? Usaha apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkannya? Pertanyaan inilah yang coba didiskusikan dalam seminar“Indonesian Tiger Conference 2014” yang berlangsung di Bogor, 11-13 Desember 2014.
Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan subspesies yang masih tersisa di Indonesia. Dua subspesies lainnya yang pernah ada yaitu harimau jawa dan harimau bali telah dinyatakan punah sebelumnya. Tahun 1940-an untuk harimau bali dan 1980-an untuk harimau jawa.
“Jumlah harimau sumatera saat ini mengalami penurunan. Bila dibandingkan tahun 1970-an yang jumlahnya sekitar 1.000 individu, tentunya akan berbeda saat ini. Sekarang, diperkirakan sekitar 350 individu,” ucap Bambang Dahono Adji, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH), Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dalam presentasinya, Kamis (11/12/2014).
Apa yang menyebabkan harimau sumatera terus menyusut? Bambang melanjutkan penjelasannya. Tidak dipungkiri bila berkurangnya luasan hutan yang merupakan habitat alami harimau sumatera menjadi perkebunan maupun peruntukan lainnya, perburuan, serta konflik antara manusia dengan harimau, menjadi penyebab menurunnya populasi kucing besar ini.
Sebagaimana yang terjadi dengan harimau jawa dan harimau bali yang telah dinyatakan punah, Bambang pun berharap kejadian serupa tidak terulang kembali. “Pertambahan penduduk di Sumatera dan perkembangan industri merupakan faktor penting yang harus diperhatikan terhadap kelestarian harimau sumatera,” lanjutnya.
Apa yang dilakukan pemerintah? Menurut Bambang, kebijakan yang telah dilakukan PHKA saat ini adalah membangun konservasi ex situ yaitu usaha pelestarian harimau sumatera yang berada di luar habitat aslinya. Tujuannya, agar populasi harimau sumatera ini terjaga, dan mandat ini telah diwajibkan pula pada kebun binatang yang ada di Indonesia.
Hal lain, sebagai satu-satunya negara pemilik subspesies harimau sumatera, Pemerintah Indonesia juga akan melindungi rumah harimau sumatera yaitu habitat alaminya berupa hutan hujan dataran rendah dan lahan gambut yang ada di Sumatera saat ini. Dengan terpeliharanya habitat alami tersebut tentunya target perlindungan dan peningkatan populasi harimau sumatera di bentang alamnya dapat diwujudkan tahun 2022 nanti. ”Pembuatan peta persebaran harimau sumatera harus dilakukan agar dapat diketahui berapa jumlahnya dan dimana saja persebarannya.”
Bagaimana penegakan hukum? Harimau sumatera merupakan satu dari 25 spesies yang harus dijaga dari kepunahan. Sudah tentu harus diperhatikan keberadaannya. Pemerintah tentu saja memerangi perdagangan satwa ilegal. Penegakan hukum dan pertukaran informasi antar-negara yang memiliki harimau maupun negara yang menjadi tujuan perdagangan harimau telah dilakukan. “Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) saat ini telah memiliki nota kesepahaman terkait perdagangan satwa ilegal. Pelakunya akan kita tangkap meski berada di luar negeri,” tegas Bambang.
Upaya penyelamatan
Dolly Priatna, Ketua Forum HarimauKita, mengatakan bahwa penyelamatan harimau sumatera harus dilakukan. Memang, upaya tersebut telah ada dalam Strategi dan Rencana Aksi Pelestarian Harimau Sumatera 2007-2017. Namun, pelaksanaannya harus dikawal bersama agar intervensi konservasi yang dilakukan sesuai harapan.
“Semua pihak harus terlibat dalam penyelamatan harimau sumatera. Pemerintah, pihak swasta, NGO, peneliti, maupun masyarakat harus memiliki pandangan yang sama dalam penyelamatan raja hutan yang hanya ada di Sumatera ini,” ujar Dolly.
Mengapa harimau sumatera harus diselamatkan? Begini argumen Dolly. Pertama, harimau merupakan pemangsa puncak dalam rantai makanan yang perannya sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem alam. Bila salah satu elemen ekosistem ini terganggu, maka keseimbangan ekosistem alam juga akan tidak seimbang. Kedua, bagi masyarakat Sumatera, harimau sumatera memiliki nilai budaya yang tinggi, baik sebagai inspirasi seni bela diri maupun sebagai maskot. “Inilah pandangan menyeluruh yang kita rangkum di masyarakat, diluar kajian para peneliti tentunya.”
Dolly melanjutkan, strategi konservasi dengan melindungi habitat harimau yang berada di luar kawasan konservasi harus dilakukan. Karena, sekitar 70 persen habitat harimau memang berada di luar kawasan konservasi seperti taman nasional dan cagar alam.
Untuk itu, pendekatan landskap atau bentangan alam yang dinamakan Tiger Conservation Landscape (TCL) harus dilakukan. Meski saat ini, pengelolaannya belum dijalankan. “Lima prioritas TCL adalah Leuser-Ulu Masen, Kerinci Seblat-Batanghari, Bukit Barisan Selatan-Bale Rejang, Berbak-Sembilang, dan Kampar-Kerumutan.”
Sunarto, peneliti harimau dari WWF Indonesia mengatakan, harimau sumatera dapat ditemukan di hutan bakau pesisir pantai, hutan rawa gambut, hutan dataran rendah, juga hutan pegunungan. Diperkirakan, di areal blok hutan yang luasnya di atas 50 ribu hektar harimau akan masih bisa dilihat.
Terkait perbedaan penafsiran jumlah harimau sumatera, ada yang menyebutkan 300 individu atau 400 individu, menurut Sunarto sah-sah saja. Karena, angka perkiraan yang belum baku itu bisa saja didasarkan dari pengamatan kamera jebak.
Kamera jebak ini juga ada yang berdurasi lama atau pula yang pendek. Nah, gambar harimau yang tertangkap kamera jebak inilah yang diakumulasi. Kelemahannya adalah, bila dalam perjalanan waktu ada harimau yang mati dan kita tidak tahu, maka jumlahnya masih terhitung. Sementara di sisi lain, kamera jebak ini juga belum representatif dipasang di semua tempat. “Jadi, untuk menjawab berapa jumlah pasti populasi harimau sumatera memang agak sulit saat ini.”
Menurut Sunarto, hal terpenting yang harus dilakukan adalah habitat harimau sumatera yang ada harus dijaga dengan melibatkan kerja sama semua pihak.

Related : Harimau Sumatra (Sumatra tiger) Hampir Punah

0 Komentar untuk "Harimau Sumatra (Sumatra tiger) Hampir Punah "